Ini adalah posting sementara yang tidak dihapus. Hapus ini secara manual. (c3674b5d-a0c2-41ae-b715-cadaac71f206 - 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)
Minggu, 18 Mei 2014
Rabu, 30 April 2014
Minggu, 23 Desember 2012
ANGKLUNG
—————————
REFERENSI DAN ARTIKEL TENTANG ANGKLUNG DARI BEBERAPA SITUS
Curt Sachs : Real-Lexicon der Musikinstrumente — Im Verlag von Julius Bard, Berlin, 1913.
Rabu, 08 September 2010
SUNDA, Sebagai salahsatu kawasan biogeografi di Indonesia dan Dunia
————————————————————————————
BERDASARKAN atas daerah penyebarannya secara endemik wilayah penyebaran (atau distribusi geografis) flora dan fauna di dunia ini dalam bidang ilmu biogeografi dibagi menjadi beberapa zona biogeografis, yaitu : Suatu zona geografi yang berkaitan dengan biologi hewan dan tumbuhan dalam segi wilayah penyebarannya di dunia (dengan ciri-ciri tertentu secara spesifik).
Cara pembagian zona biogeografis ini untuk pertama kali dibuat oleh Wallace pada abad ke-19. Di mana Wallace dalam hal ini membagi dunia dalam beberapa wilayah biogerografis, yakni : Nearktik, Palaearktik, Etiopian, Oriental, Holoarktik, Australian dan Neotropikal. — Pada wilayah biogeografi Oriental (yang meliputi kawasan Indonesia dan sekitarnya/Asia Tenggara serta sebagian Asia Pasifik) terdapat kawasan Subzona-biogeografis yang disebut Sunda dan Sahul.
Subzona-biogeografis Sunda terdapat di kawasan sekitar Indonesia bagian barat dan sebgaian Indonesia tengah serta Asia tenggara sebelah barat, yang tercakup dalam wilayah geologis Dangkalan Sunda; sementara Subzona-biogeografis Sahul terdapat di kawasan Indonesia Timur serta Asia tenggara sebelah timur dan sebagian Asia-Pasifik, yang tercakup dalam wilayah geologis Dangkalan Sahul, yang di antara keduanya dibatasi oleh Garis Wallace (Selain Garis Wallace secara lebih detil dalam ruang mikro antara subzona Sunda dan Sahul itu sebenarnya juga terdapat Garis Weber dan Garis Lydekker).
Kaitannya dengan ini dalam istilah sebutan bahasa Inggris (yang seringkali juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) mungkin kita sering menemukan nama Sunda disebut-sebut dalam berbagai jenis hewan dan tumbuhan dari sekitar kawasan biogeografi ini, dengan sebutan seperti : Sambar Sunda (Cervus timorensis), Sunda scops-owl, Sundaland tiger atau Sundaland Clouded Leopard (Neofeis diardi), dan sebagainya.
Sambar Sunda (Cervus timorensis)
Sunda scops-owl
Sundaland Clouded Leopard (Neofeis diardi)
————————————————————————————
SITUS DAN PUSTAKA SUMBER RUJUKAN (REFERENSI)| 1. |
| 2. |
———————————————
Senin, 02 Agustus 2010
SUNDA, sebagai suatu kawasan geologis di Indonesia
—————————————————————————————————————————
DI LUAR hal etniologi, dalam bidang geologi nama-sebutan Sunda secara luas (di dunia internasional) digunakan sebagai nama salahsatu lempeng benua (plat), dangkalan atau paparan (trog), palung laut (trench) dan juga busur vulkanik (arc), yang disebut sebagai Lempeng Sunda (Sunda Plat), Dangkalan Sunda (Sunda shelf), Palung Sunda (Sunda Trench), dan Busur Sunda (Sunda Arc).
I. LEMPENG SUNDA (SUNDA PLAT)
Lempeng Sunda (Sunda Plat) adalah suatu lempeng tektonik (plat) di sekitar kawasan Asia Tenggara yang dianggap sebagai bagian dari Lempeng Eurasia. Lempeng tektonik ini meliputi wilayah Laut Cina Selatan, Laut Andaman, bagian selatan Vietnam, Thailand, Malaysia, pulau-pulau pada kepulauan Sunda Besar di Indonesia (Kalimantan, Sumatra, Jawa, serta Sulawesi) serta bagian barat daya kepulauan Filipina, Palawan dan Kepulauan Sulu.
Batas-batas Lempeng Sunda : Di bagian timur berbatasan dengan Sabuk Bergerak Filipina, Zona Tumbukan Laut Maluku, Lempeng Laut Maluku, Lempeng Laut Banda dan Lempeng Timor; di selatan dan barat dengan Lempeng Australia; dan diutara dengan Lempeng Burma, Lempeng Eurasia; serta Lempeng Yangtze.
Batas-batas Lempeng Sunda di bagian timur, selatan dan barat secara tektonik terbilang rumit (kompleks) serta secara seismik senantiasa aktif. Hanya batas bagian utara saja yang boleh dikatakan relatif diam.
Peta Lempeng Sunda dan lempeng-lempeng di sekitarnya
———————————————
II. DANGKALAN SUNDA (SUNDA SHELF)
Dangkalan Sunda atau Paparan Sunda (Sunda shelf), adalah suatu dangkalan atau paparan (shelf) di kawasan Indonesia barat; meliputi Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, dan pulau-pulau serta dasar laut transgresi di kawasan Laut Jawa, Laut Natuna, bagian selatan Laut Cina Selatan dan Selat Malaka. Sebelum Zaman Pleistosen dangkalan ini menjadi satu kesatuan dengan benua Asia. — Pada masa lampau (zaman glasial) dangkalan Sunda terbentang luas dari Barat ke Timur antara Lembah Brahmanadapura (di Myanmar) hingga Maluku (di Indonesia Timur) sekarang.
Batas-Batas Dangkalan Sunda : Batas alam wilayah Dangkalan Sunda di sebelah timur yaitu “Garis Wallace”, garis yang melintang mulai dari perairan Timur Pulau Mindanau (Filipina) terus ke laut Sulawesi, Selat Makasar, Selat Lombok dan berakhir di Samudera Indonesia. Laut-laut transgresi di wilayah Dangkalan Sunda berkedalaman rata-rata 200 m.
Di samping Dangkalan Sunda di bagian timurnya terdapat yang disebut sebagai Dangkalan sahul (Sahul shelf) yaitu dangkalan laut yang berada di antara Papua dan kepulauan Aru Indonesia Timur yang pada zaman Diluvium bersatu dengan Australia sehingga ada persamaan antara Indonesia kawasan timur dengan Australia.
Dengan adanya dangkalan (yang berupa daratan penghubung) ini maka pada jaman es terahir sekitar 10.000 tahun SM (sebelum Zaman Pleistosen) benua Asia tersambung menjadi satu kesatuan dengan kepulauan di Nusantara bagian barat, sehingga memungkinkan fauna dan flora dari daratan Asia (seperti gajah, badak, tapir, harimau dan sebagainya, temasuk berbagai tumbuh khas Asia) dapat tersebar ke kawasan Indonesia bagian barat, begitu pula sebaliknya. Sementara di bagian timur Indonesia, dengan adanya daratan Sahul yang menghubungkan Pulau Papua dan sekitarnya dengan benua Australia memungkinkan fauna dan flora Australia berpindah ke bagian timur Indonesia. Pada bagian tengah antara dangkalan Sunda dan Sahul terdapat pulau-pulau yang terpisah dari kedua benua tersebut (sehingga di kawasan ini hingga kini terdapat flora dan fauna endemik yang cukup unik).
Sebagai suatu catatan tambahan : Jawa Barat dan sekitarnya sebagai suatu bagian dari Pulau Jawa, dalam sejarah alam geologi diperkirakan baru ada/muncul di permukaan bumi dari semenjak zaman akhir Miosen, dalam kala Tertier.
Garis batas antara dangkalan Sunda dan dangkalan Sahul secara lebih detil di mana di dalamnya tedapat subzona biogeografis yang dibatasi oleh 3 garis pembatas, yakni Garis Wallace, Garis Weber dan Lydekker.
———————————————
III. PALUNG SUNDA (SUNDA TRENCH)
Palung Sunda (Sunda trench) adalah suatu palung laut (Oceanic trench) yang terdapat di sekitar kawasan Dangkalan Sunda; atau berdasarkan atas wilayahkawasannya disebut pula sebagai Palung Jawa (Java Trench) dan Palung Sumatera. Letaknya di bagian timur laut Samudera Hindia, panjangnya sekitar 2.600 kilometer (8.500.000 ft) dengan kedalaman maksimum 7.725 meter (25.344 ft; bagian terdalam terletak pada 10°19' LS, 109°58'BT, yaitu sekitar 320 km selatan Yogyakarta). Palung laut ini tercatat sebagai palung laut kedua terdalam di Samudera Hindia, setelah Palung Diamantina (dengan kedalaman sekitar 8.047 meter).
Secara luas wilayah Palung Sunda membentang dari Kepulauan Sunda Kecil, Jawa masa lalu, sekitar pantai selatan Sumatera ke pulau Andaman, sekitar 300 km lepas pantai Jawa dan Sumatra; bentuk-bentuk batas antara Lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, lebih spesifik, Lempeng Sunda (Sunda Plate), merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) dan cincin dari parit laut di sekitar tepi utara Lempeng Australia (Australian Plate).
Menurut pengamatan sejumlah ahli gempa terdapat bukti ilmiah tentang aktivitas kegempaan bumi di daerah Palung Sunda/Palung Jawa bisa menimbulkan pergeseran lebih lanjut yang kemungkinan dapat menimbulkan bencana tsunami dalam waktu relatif singkat, mungkin kurang dari satu dekade (seperti yang terjadi di Aceh serta Pangandaran dan sekitarnya pada beberapa waktu yang lalu). Dengan adanya kemungkinan ancaman seperti ini lalu menghasilkan kesepakatan internasional untuk mendirikan Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System = TEWS) di sepanjang pantai Samudra Hindia.
———————————————
D. BUSUR SUNDA (SUNDA ARC)
Busur Sunda (Sunda Arc) adalah suatu busur vulkanik (volcanic arc) atau celah vulkanik yang membuat adanya pulau Sumatera, Jawa, selat Sunda dan kepulauan Nusa Tenggara. Pada busur vulkanik ini terwujud suatu rangkaian/rantai gunung berapi yang membentuk punggung topografi di pulau-pulau bersangkutan. Celah tersebut menjadi batas konvergen aktif antara lempengan Eurasia Timur dengan lempengan India dan lempengan Australia.
Busur Sunda termasuk tempat dari gunung berapi yang paling berbahaya di dunia (dengan banyaknya aktifitas vulkanologi). Contoh letusan gunung Tambora di pulau Sumbawa yang cukup besar. Di zona ini pula dalam sejarah geologi pernah meletus suatu gunung berapi di Sumatera Utara sehingga membentuk danau Toba yang diperkirakan termasuk letusan terbesar dalam sejarah purba kegunung-apian. Lalu juga letusan Gunung Krakatau (pada tahun 1883) yang tak kalah dahsyatnya dengan suara letusan terbesar dan terjauh dalam sejarah, sehingga dapat terdengar sampai sejauh kira-kira 5.000 km (3.000 mil) dari pusat letusan dengan menimbulkan kerusakan dan korban jiwa yang cukup banyak kala itu.
Catatan : Busur Sunda (Sunda Arc) dikatakan termasuk suatu contoh klasik dari busur vulkanik (busur pulau gunung berapi), di mana semua unsur fitur geodinamiknya dapat diidentifikasi secara seksama.
Gunung berapi di Busur Sunda, dari Kepulauan Nusa Tenggara ke Sumatera utara.
—————————————————————————————————————————
SITUS SUMBER DASAR YANG TERKAIT DENGAN HAL INI :| 1. | http://id.wikipedia.org/wiki/Lempeng_Sunda |
| 2. | http://id.wikipedia.org/wiki/Dangkalan_sunda_dan_dangkalan_sahul |
| 3. | |
| 4. | |
| 5. | http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=3&an=2 (BPPT) – Khusus tentang sistem peringatan dini Tsunami, pada: http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=3&an=2 |
———————————————
Kamis, 01 Juli 2010
SUNDA, sebagai nama kelompok kepulauan di Indonesia
————————————————————————————
SEBAGAI nama kepulauan sebutan Kepulauan Sunda atau Sunda Islands untuk menyebut Kepulauan Nusantara secara mendasar sudah lama digunakan oleh orang dari luar, terutama oleh orang-orang dari Eropa. Hal ini setidaknya telah berlangsung dari sejak pertama kedatangan bangsa Eropa (khususnya Portugis dan Belanda) ke Nusantara pada sekitar abad 15–16 M. Kemudian pada sejumlah peta dari Barat (Europe) dan Amerika serikat (USA) hal ini terus digunakan hingga kini; Misal pada peta dunia (atlas internasional) The Hammond World Atlas terbitan Time (United States of America, 1980), nama SUNDA ISLANDS dicantumkan dengan huruf besar.
Di samping itu seperti pembagian dari masa silam, kelompok kepulauan ini dalam bahasa Inggris masih tetap dibagi menjadi 2 kelompok besar yakni Greater Sunda atau Kepulauan Sunda Besar (berupa kumpulan pulau-pulau besar di Indonesia bagian Barat dan tengah yang terdiri atas pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi), dan Lesser Sunda atau Kepulauan Sunda Kecil (berupa kumpulan pulau-pulau kecil di Indonesia bagian Barat dan tengah yang terdiri atas pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor). Perubahan dari Sunda Kecil menjadi Nusatenggara dilakukan oleh Muhammad Yamin pada masa Ia menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan (sekitar tahun 1950-an), berbarengan dengan penggantian nama Pulau Flores (dari bahasa Portugis) menjadi Pulau Bunga, namun nama ini tidak populer.
Jauh sebelum orang Portugis dan Belanda menyebut kawasan Nusantara ini dengan sebutan Kepulauan Sunda (pada sekitar abad ke-15–16 M), Ptolemaeus (geografer Yunani dari Alexandria Mesir) pada sekitar abad ke-2 M dalam peta klasiknya Geographike Hyphegesis selain menyebut Iabadiu (untuk Pulau Jawa) Ia pun menyebutkan adanya pulau-pulau yang disebut sebagai Sunda (di kawasan yang kemudian dikenal sebagai Nusantara). Mungkin berdasarkan hal inilah makanya orang Portugis dan Belanda kemudian untuk pertama kali menyebutnya dengan sebutan SUNDA.
CATATAN TENTANG BEBERAPA DEFINISI YANG DISEBUT SEBAGAI KEPULAUAN SUNDA (SUNDA ISLANDS) DARI BERBAGAI SUMBER :
Pada Answer.com — http://www.answers.com/topic/sunda-strait — disebutkan Sunda Islands : Group of islands of the western Malay Archipelago between the South China Sea and the Indian Ocean. The Greater Sunda Islands include Sumatra, Borneo, Java, and Sulawesi; the Lesser Sunda Islands lie east of Java and extend from Bali to Timor. Sumatra and Java are separated by the Sunda Strait, a narrow channel linking the Indian Ocean with the Java Sea.
Pada Britanica Concise Encyclopedia — http://www.britannica.com/EBchecked/topic/573753/Sunda-Islands— disebutkan Sunda Islands : Archipelago extending from the Malay Peninsula to the Moluccas. The islands make up most of the land area of Indonesia, with only northern and northwestern Borneo and the eastern portion of Timor not under Indonesian political control. They include the Greater Sunda Islands (Sumatra, Java, Borneo, Sulawesi, and adjacent smaller islands) and the Lesser Sunda Islands (Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, Alor, and adjacent smaller islands). Most of the islands are part of a geologically unstable and volcanically active island arc. Malay cultures and languages predominate in the area.
Pada Columbia Encyclopedia — http://www.answers.com/library/Columbia+Encyclopedia-cid-2191888— disebutkan Sunda Islands (sŭn'da) : Mainly in Indonesia, between the South China Sea and the Indian Ocean, comprising the western part of the Malay Archipelago. It includes two main groups: the Greater Sunda Islands, to which belong the largest islands of Borneo, Sumatra, Java, and Sulawesi; and the Lesser Sundas, which lie E of Java and include Sumbawa, Flores, Timor, and Sumba (the largest islands). Bali and Lombok, although smaller, are the most important of the Lesser Sundas. The Lesser Sundas, which were renamed Nusa Tenggara [southeastern islands] in 1954, form two provinces within Indonesia. Malaysia, Brunei, and East Timor are the other nations wholly or partially in the Sunda Islands. The Sunda Strait, 20 to 65 mi (32-100 km) wide, between Java and Sumatra, connects the Java Sea with the Indian Ocean.
————————————————————————————
Selasa, 01 Juni 2010
SUNDA, sebagai nama gunung
—————————————————————————————————————————
SELAIN digunakan sebagai nama selat (juga dangkalan dan palung laut) nama sebutan SUNDA pun di antaranya digunakan sebagai nama gunung, yaitu Gunung Sunda. — Gunung Sunda (1.854 m dpl) termasuk salahsatu gunung api di kawasan Bandung utara (Jawa Barat; di sebelah Barat Gunung Tangkuban Parahu atau di sebelah Barat Daya kota Bandung), di mana bersama dengan Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Burangrang termasuk sebagai sisa-sisa dari Gunung Sunda purba raksasa
yang pernah meletus pada zaman prasejarah dulu, yang karena letusannya mengakibatkan terbentuknya kaldera Sunda dan juga karena sumbatan dari lavanya yang membendung sungai Citarum (di sekitar kawasan Sangiang Tikoro) kemudian membentuk Danau Bandung purba pada daerah cekungan Bandung dalam masa ratusan ribu tahun yang lalu (pada masa ??).
Sebuah legenda Sunda terkenal yang berkaitan dengan hal ini adalah legenda Sangkuriang.
—————————————————————————————————————————
Sabtu, 08 Mei 2010
SUNDA, sebagai nama selat
————————————————————————————
SELAT SUNDA atau Sunda Strait, adalah nama selat di antara P. Jawa dan P. Sumatera. Dalam bahasa Sunda sendiri dulu sering disebut pula sebagai Gupitan Sunda. — Sebelum Banten berpisah dengan Jawa Barat kawasan ini merupakan batas alam paling barat dari Provinsi Jawa Barat. Kini menjadi batas paling barat dari Provinsi Banten yang berseberangan dengan Provinsi Lampung.
Di kawasan ini terdapat sejumlah pulau kecil yang menjadi milik Banten (dulu Jawa Barat), seperti Pulau Panaitan, Pulau Peucang, Pulau Sangiang, dsbnya (begitu pula di bagian Lampung, seperti P. Sebesi, P. Sebuku, dan P. Legundi). SDwebagi sdaya tarik khusus di kawasan selat ini terdapat gunung api laut yang sangat terkenal di dunia
yaitu Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata dalam sebutan bahasa Sunda) yang menjadi bagian dari Provinsi Lampung.
Jembatan laut selat Sunda : Bagaimana pentingnya selat ini dalam perhubungan laut dunia mungkin sudah diketahui oleh masyarakat internasional. — Untuk meningkatkan kelancaran transfortasi ada rencana pembangunan jembatan selat Sunda yang menghubungkan antara Banten dengan Lampung, atau antara
—————————————————————————————————————————
Kamis, 01 April 2010
SUNDA, sebagai nama organisasi kemasyarakatan dan hal yang berkaitan dengan kegiatan sosial-budaya lainnya
—————————————————————————————————————————
NAMA SEBUTAN SUNDA dengan daya-tarik/daya-pesona dan daya-ikatnya tersendiri tak jarang digunakan untuk menamai suatu organisasi atau wadah kegiatan tertentu (termasuk pada situs internet); baik menggunakan nama-sebutan Sunda itu secara nyata atau tidak (seperti pada SundaNet, dan ngariung.com), serta baik yang bersifat sosial non-komersial maupun yang bersifat komersial.
Dalam hal ini nama sebutan Sunda tersebut beperan atau berfungsi sebagai dasar identitas untuk pengikat suatu wadah perhimpunan yang dibentuk dengan tujuan tertentu; baik berupa ikatan-ikatan, perkumpulan atau asosiasi dan juga badan atau lembaga yang berkaitan dengan asal-usul etnis dan daerah dari kawasan Sunda.
Ditinjau dari sisi lain nama-sebutan dengan daya-tarik khusus ini mungkin juga dipakai sebagai semacam “image brand” untuk pemikat atau penarik hati, baik secara komersil (dalam merek dagang suatu produk niaga) maupun non-komersil (sebagai identitas bagi suatu organisasi/badan atau lembaga sosial-budaya dan sebagainya).
Dalam organisasi yang bersifat non-komersial nama sebutan Sunda misalnya digunakan dalam nama Paguyuban Pasundan, Pakumpulan Wargi Sunda, dsbnya. Sementara yang bersifat komersial misalnya digunakan dalam sejumlah nama atau merek suatu perusahaan dan produk niaga/dagangan tertentu, seperti rumah makan (restoran), hotel, jenis makanan, pakaian, dan sebagainya, terutama di lingkungan lokal, regional dan nasional (di setiap kota sekitar Sunda dan Nusantara/Indonesia), dan bahkan mungkin juga secara internasional di luar negeri (seperti di Amerika Serikat misalnya terdapat sebuah restoran yang menggunakan nama SUNDA).
Untuk melihat bagaimana nama sebutan Sunda tersebut digunakan (dalam hal ini khususnya pada organisasi yang bersifat non-komersial) baiklah kita rinci beberapa di antaranya, dengan pengelompokan sebagai berikut :
| I. | Organisasi Sunda/Kesundaan di kawasan Tatar Sunda sendiri : |
| 1. | Paguyuban Pasundan — Alamat : | |
| 2. | Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) — Alamat : | |
| 3. | Paguyuban |
| II. | Organisasi Sunda/Kesundaan di luar kawasan Tatar Sunda : |
| A. | Di luar daerah di Indonesia (dalam negeri) : |
| 1. | Wargi Sunda Medan (di Medan Sumatera Utara) | ||
| 2. | Paguyuban Urang Sunda (Pusunda) di Bali |
| B. | Di luar negeri (luar Indonesia) : |
| 1. | Paguyuban Sunda Australia | ||
| 2. | Paguyuban |
Seperti disebutkan di atas termasuk pula ke dalam kelompok ini adalah komunitas orang Sunda atau organisasi kesundaan dalam jaringan internet, berupa situs-situs yang bertalian dengan Sunda dan orang Sunda, baik yang menggunakan bahasa Sunda maupun bahasa lainnya di luar Sunda (Indonesia, Inggris, dsbnya), serta baik yang secara nyata menggunakan nama Sunda atau tidak.
BEBERAPA SITUS SUNDA/KESUNDAAN DI INTERNET : Jumlah situs Sunda atau Kesundaan di Internet sangat banyak, di antaranya saja (yang bersifat non-komersil) seperti :
| 1. | http://www.sundanet.com/ (SundaNet) |
| 2. | http://urangsundanet.wordpress.com (KUSNet) |
| 3. | http://ppss.or.id (Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda) |
| 4. | http://rumahbacabukusunda.blogspot.com (Rumah Baca Buku Sunda) |
| 5. | http://pasundanboleh.wordpress.com (Sunda Blog) |
| 6. | http://baraya-sunda.grouply.com |
| 7. | http://ngariung.com, dsbnya. |
—————————————————————————————————————————
Senin, 01 Maret 2010
SUNDA, sebagai nama Kerajaan zaman dahulu di Jawa Barat dan sekitarnya
————————————————————————————————————————
PADA masa lalu, jauh sebelum adanya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) di Nusantara ini berdiri sejumlah negara kerajaan independen yang tersebar di berbagai daerah dari barat hingga timur; termasuk di kawasan Sunda (Jawa Barat dan sekitarnya). Di kawasan ini pada zaman dahulu (dari sekitar abad ke-2 M hingga abad ke-19 M) pernah berdiri beberapa kerajaan besar, seperti Salakanagara, Tarumanagara, Sunda, Galuh, Pajajaran atau Sunda-Pajajaran, Sumedanglarang, serta Kesultanan Cirebon dan Banten.
Sunda sebagai nama kerajaan di Jawa Barat dan sekitarnya pada zaman dahulu muncul pada sekitar pertengahan abad ke-7 M, setelah berakhirnya masa kerajaan Tarumanagara. Kerajaan penerus Tarumanagara ini berdiri selama sekitar 8 abad, dari tahun 669 M hingga tahun 1482 M. — Wilayah kekuasaannya pada awalnya hanya terdiri atas bagian wilayah Banten, Jakarta dan sebagian Jawa Barat bagian barat hingga perbatasan Sungai Citarum (karena pemisahan wilayah Galuh di bagian di timur), namun setelah menyatu kembali dengan Galuh wilayahnya kemudian meliputi seluruh bagian pulau Jawa bagian barat, dari mulai Banten, Jakarta dan seluruh Jawa Barat hingga sebagian wilayah Jawa Tengah bagian barat dengan batas alam kali Pemali (Cipamali) Brebes dan sekitarnya.
SEJARAH AWAL BERDIRINYA KERAJAAN SUNDA : Awalnya di jaman akhir Tarumanagara yang telah memudar menantu raja terakhir dari kerajaan Tarumanagara (menantu Maharaja Linggawarman), yang bernama Tarusbawa (yang berasal dari kawasan Sunda Sembawa) sebagai raja pengganti pada tahun 669 M merubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Perubahan nama ini mungkin dimaksudkan untuk membangkitkan suasana dan semangat baru dalam membangun negara, namun sangat disayangkan hal ini justru memicu perpecahan, karena kawasan Galuh di timur (dengan rajanya kala itu bernama Wretikandayun) yang tidak setuju akan hal tersebut lalu memisahkan diri. Namun hal ini tidak berlangsung selamanya, karena pada masa raja-raja selanjutnya terjadi penyatuan kembali; hingga mencapai puncak penyatuan pada masa raja Sri Baduga Maharaja di mana Sunda dan Galuh secara utuh menyatu kembali dalam satu negara kerajaan Sunda dengan nama baru yang lebih dikenal dengan sebutan Sunda Pajajaran.
Tentang awal-mula kawasan yang disebut Sunda Naskah Wangsakerta pada bagian mengenai Jawadwipa (yang mungkin hal ini berkaitan erat dengan prasasti Pasir Muara Cibungbulang Bogor = Prasasti Juru Pangambat dari abad ke-6 M; serta dengan piagam tembaga Kebantenan dari abad ke-15/16 M), disebutkan sebagai berikut, bahwa : Sebelumnya sebetulnya sudah ada nama Sunda, namun Sunda kala itu baru sebagai suatu kerajaan daerah di bawah kekuasaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara sendiri mempunyai ibukota yang bernama Sundapura, yang letaknya mungkin di sekitar Bekasi atau di sekitar kawasan pesisir antara Jakarta dan Bekasi). — Di luar itu ada lagi yang disebut Sunda Sambawa atau Sunda Sembawa tempat asal Tarusbawa. Dengan adanya sebutan Sunda Sembawa ini lalu timbul suatu pertanyaan mendasar apakah Sunda Sembawa (= Sunda Awal) itu adalah nama lain dari Sundapura dalam sebutan di kemudian hari, ataukah kawasan khusus lainnya yang lebih tertuju kepada daerah pedalaman di sekitar Bogor tempat ditemukannya prasasti Juru Pangambat yang menyebut-nyebut nama Sunda, di mana kemudian kawasan tempat asal Tarusbawa dan leluhurnya tersebut (Sunda Sembawa) dijadikan sebagai nama sekaligus pusat kerajaan Sunda. Untuk menjawab hal ini mungkin diperlukan kajian lain yang lebih mendalam, yang jelas kemudian pusat kerajaan Tarumanagara yang telah berubah menjadi Sunda beralih dari daerah pesisir di sekitar Bekasi ke daerah pedalaman di sekitar Bogor kini.
Nama Sunda sebagai nama kerajaan penerus Tarumanagara terus berlanjut hingga berdirinya Pajajaran atau secara lengkapnya disebut Kerajaan Sunda Pajajaran (pada abad ke 15/16); di mana orang Portugis pada awal abad ke-16 menyebut kerajaan tersebut dengan sebutan Sunda, atau dengan lidah mereka disebut Cumda (Regna da Cumda) atau Sonda.
Raja terakhir kerajaan Sunda adalah Susuktunggal (1382 – 1482 M). Setelah itu lalu berdirilah Pajajaran (Sunda Pajajaran) dengan raja pertamanya adalah Sri Baduga Maharaja (keponakan sekaligus menantu Susuktunggal), atau yang lebih dikenal di masyarakat banyak dengan julukan Prabu Siliwangi.
———————————————
RAJA-RAJA KERAJAAN SUNDA
Selama berdiri kurang-lebih sekitar 8 abad (dari tahun 669 M hingga tahun 1482 M) kerajaan Sunda pernah dirajai oleh 34 orang Raja, yakni :
| 1. | Tarusbawa | 669 – 723 M |
| 2. | Sanjaya | 723 – 732 M |
| 3. | Tamperan Barmawijaya | 732 – 739 M |
| 4. | Rakeyan Banga | 739 – 766 M |
| 5. | Rakeyan Medang Prabu Hulukujang | 766 – 783 M |
| 6. | Prabu Gilingwesi | 783 – 795 M |
| 7. | Pucukbumi Darmeswara | 795 – 819 M |
| 8. | Rakeyan Wuwus Prabu Gajahkulon | 819 – 891 M |
| 9. | Prabu Darmaraksa | 891 – 895 M |
| 10. | Windusakti Prabu Dewageng | 895 – 913 M |
| 11. | Prabu Pucukwesi | 913 – 916 M |
| 12. | Rakeyan Jayagiri | 916 – 942 M |
| 13. | Atmayadarma Hariwangsa | 942 – 954 M |
| 14. | Limburkancana | 954 – 964 M |
| 15. | Munding Ganawirya | 964 – 973 M |
| 16. | Rakeyan Wulunggadung | 973 – 989 M |
| 17. | Brajawisesa | 989 – 1012 M |
| 18. | Dewa Sanghiyang | 1012 – 1019 M |
| 19. | Sanghiyang Ageng | 1019 – 1030 M |
| 20. | Sri Jayabupati | 1030 – 1042 M |
| 21. | Darmaraja | 1042 – 1065 M |
| 22. | Langlangbumi | 1065 – 1155 M |
| 23. | Prabu Menakluhur | 1155 – 1157 M |
| 24. | Darmakusuma | 1157 – 1175 M |
| 25. | Darmasiksa | 1175 – 1297 M |
| 26. | Ragasuci | 1297 – 1303 M |
| 27. | Citraganda | 1303 – 1311 M |
| 28. | Linggadewata | 1311 – 1333 M |
| 29. | Linggawisesa | 1333 – 1340 M |
| 30. | Ragamulya | 1340 – 1350 M |
| 31. | Prabu Maharaja Linggabuana | 1350 – 1357 M |
| 32. | Bunisora Suradipati | 1357 – 1371 M |
| 33. | Niskala Wastukancana | 1371 – 1475 M |
| 34. | Susuktunggal | 1382 – 1482 M |
Kaitan dengan ini selanjutnya lihat : Sejarah kerajaan-kerajaan di kawasan Sunda atau Jawa Barat dan sekitarnya.
————————————————————————————————————————
