Minggu, 18 Mei 2014

Posting Sementara yang Digunakan untuk Deteksi Tema (b34274e7-0af2-4e12-af98-c584184998c9 - 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

Ini adalah posting sementara yang tidak dihapus. Hapus ini secara manual. (c3674b5d-a0c2-41ae-b715-cadaac71f206 - 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

Rabu, 30 April 2014

Sunda, Nusantara, Indonesia

Minggu, 23 Desember 2012

ANGKLUNG

     ANGKLUNG, adalah salahsatu jenis alat musik tradisional Nusantara asal Sunda (Jawa Barat dan Banten) terbuat dari 2 – 3 tabung bambu atau Angklung14D_thumb4lebih yang dirangkai menjadi satu dalam satu rangka yang disebut ancak (frame); cara memainkannya digoyangkan. Setiap 1 buah angklung merupakan 1 not nada, sehingga untuk memainkan sebuah lagu diperlukan beberapa angklung. — Untuk ritem (pangiring) minimal berjumlah 4 (seperti dalam kesenian réog dulu atau pada angklung-Baduy); sementara untuk melodi (panglagu) minimal  berjumlah 8 atau lebih (misal pada kesenian angklung Buncis dari Kabupaten Bandung).
     Suatu catatan : Dalam bentuk dan pengertian lain angklung pun terdapat pada kesenian Bali.
---
BAGIAN-BAGIAN DARI ANGKLUNG
     Sebuah angklung atau saancak angklung terdiri atas bagian rangka yang disebut ancak (frame) dan bungbung atau tabung pembentuk bunyi yang disebut parungpung atau rumpung. — Bagian ancak terdiri atas tihang (3) dan palang atau toros (4). Bagian parungpung terdiri atas parungpung-tatapakan atau tatapakan (1) yang  tertidur mendatar (horisontal) di bawah dan parungpung-sosoraan atau parungpung-laras (2) yang berdiri tegak (vertikal) di atasnya dengan menggantung pada batang palang toros; bagian atasnya “disogat” (dibuang sebelah sebagian, seperti tabung pada calung) dan diberi berluang untuk menggantung (liang-toros). Parungpung-laras/parungpung-sosoraan (sebagai tabung bernada, dan juga sebagai resonator atau lawong) berjumlah 2 atau 3, bahkan pada angklung moderen yang bertangga nada diatonis ada yang berjumlah 4; terdiri atas parungpung-anak (2a), parungpung-panengah (2b), parungpung-indung (2c), dan parungpung-panyuwuk bila ada. Bagian bawah dari parunpung-laras atau suku-parungpung masuk ke dalam lobang bagian atas dari tatapakan (cokrah-tatapakan) sehingga ketika angklung digoyang suku dan bibir lubang tatapakan beradu dan menimbulkan suara (sora-laras) tertentu. — Kesemua tabung parungpung-laras ini (masiung-masing dengan nada berbeda namun menurut pasangannnya sesuai dengan susunan papatet/komposisi paduan nada tertentu), sehingga ketika sebuah angklung dibunyikan secara terpadu membentuk akor (layeutan-sora) dengan harmonis. —  Cara membunyikan angklung digoyangkan/diguncangkan (dioyagkeun atau diendagkeun dan digedagkeun). Suaranya ngurulung atau ngungklung, mungkin dari suaranya ini (yang terdengar seperti bunyi klung-klung) makanya namanya disebut angklung.
     Seperti disebutkan di awal untuk membentuk suara ritem (pangiring) atau melodi (panglagu) angklung senantiasa harus berjumlah lebih dari satu, atau satu set dalam rangkaian nada yang disebut sebagai saparangkat. Satu, dua atau lebih angklung dengan nada dan fungsi tertentu yang dipegang/dibunyikan oleh seseorang disebut tatapan (dalam hal ini satatapan dapat berarti berjumlah 1, 2, 3 atau lebih angklung yang dibunyikan oleh seorang pemain). —  Satu tatapan angklung (yang terdiri dari satu atau lebih tersebut) mungkin saja dimainkan oleh satu orang semuanya atau soranganan (sendirian, seperti dalam Angklung-rengkung) atau oleh banyak orang sarombongan (membentuk orkestra). Bahkan seperti tercatat oleh The Guines Book Of Record dapat dimainkan oleh ribuan orang.
CATATAN : Dalam angklung-rengkung (yang keberadaannya kini mungkin sudah punah), seorang pemain yang memainkan banyak angklung sendirian tersebut bahkan sambil meniup goong-bungbung atau goong-awi (dari bambu pula).
    Setiap tatapan ancak angklung mempunyai nama-nama tersendiri sesuai dengan nada dan fungsinya masing-masing; misal dalam perangkat angklung tradisional dari Kabupaten Bandung yang terdiri atas 8 ancak tatapan terdapat nama-nama angklung sebagai berikut :
1.   Singgul  atau Indung
2.   Jongjorang atau Jongjrong
3.   Ambrug atau Ambrung
4.   Ambrug-panerus atau Ambrung-panerus
5.   Pancer
6.   Pancer-panerus
7.   Éngklong atau Éngklok
8.   Roél
Ambrung dan  ambrung-panerus (2 ancak angklung) dipegang oleh 1 orang; juga Pancer dan Pancer-panerus (2 ancak angklung) dipegang oleh 1 orang; jadi dalam kelompok kesenian yang terdiri atas 8 ancak angklung ini (berdasarkan atas jumlah tatapannya) dimainkan oleh 6 orang (= 6 tatapan).
      Sementara pada angklung Baduy yang berfungsi sebagai pangiring/ritem terdapat 4 buah ancak (rumpung), terdiri atas  :
1.   Kingking
2.   Inclo
3.   Panémpas, dan
4.   Gonggong

—————————

CATATAN : Sebagai ritem angklung bersifat ritmis.
Parungpung kadang disebut rumpung (ini merupakan perubahan dari rungpung, kependekan dari parungpung). Pada pengertian lain rumpung diartikan sebagai ancak atau tatapan.  
Kata Tatapan, mengandung arti : Setiap unit ancak angklung pegangan seseorang pemain angklung (jumlahnya beragam, mungkin 1, 2 atau banyak/lebih dari 2). Kata tatapan berasal dari asal kata tatap, yang dalam bahasa Sunda mengandung makna pegang atau sentuh dengan lembut (seperti pada kata ditatap-diusap = disentuh dan diusap dengan lembut).
-
---
JENIS-JENIS ANGKLUNG
     Angklung banyak macamnya, baik bentuk fisik, tangganada, maupun jenis keseniannya. Berdasarkan atas sifat gaya keseniannya angklung terdiri atas : 1. Angklung tradisional, dan 2. Angklung moderen.
 
Angklung tradisional = Angklung-buhun
     Angklung tradisional atau Angklung-buhun adalah angklung dengan tangganada pentatonis (daminatila), dengan surupan saléndro, pélog atau sorog (madenda). — Angklungtradisional2_thumb1Angklung tradisional masih terdapat di beberapa tempat di wilayah provinsi Jawa Barat dan Banten, seperti di kawasan Bandung, Garut,  Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi, Cirebon, Lebak, Pandeglang (Banten; termasuk di Baduy), dsbnya. — Jenis kelompok kesenian yang termasuk angklung tradisional misalnya : Angklung-buncis (dari Bandung), Angklung-badéng (Garut), Angklung-séréd (Tasikmalaya), Angklung-gubrag (Bogor), Angklung-dogdog-lojor (Sukabumi), Angklung-bungko (Cirebon), Angklung-Baduy atau angklung-Kanékés (di Lebak, Banten), dsbnya.
      Dalam beberapa kesenian tradisional Sunda angklung biasa dipadukan dengan alat musik lainnya, seperti dengan dogdog (alat tabuh berkulit semacam tifa pendek agak besar) atau dogdog-lojor (tifa Sunda, dogdog kecil panjang). — Pada jenis kesenian lainnya terdapat pula bentuk paduan dari angklung dengan terebang atau terbang (rebana Sunda), dengan nama Bangklung (singkatan dari Terebang-angklung) yang disertai dengan nyanyian kakawihan atau solawatan yang bernafaskan Islam.
 
angklungbuncis2_thumb10
image_thumb5
 
     Pada masa lalu selain sebagai alat musik hiburan biasa angklung-buhun secara khusus digunakan sebagai pengiring dalam upacara adat pertanian yang bersifat sakral (menurut kepercayaan Sunda lama terhadap Dewi Sri atau Nyi Sri Pohaci Dangdayang Tresnawati sebagai Dewi Kesuburan). Hal seperti ini masih dilakukan di masyarakat Sunda Baduy di kawasan Kabupaten Lebak Banten yang masih menganut kepercayaan nenekmoyang yang disebut sebagai agama Sunda Wiwitan (di samping juga sebagai alat hiburan biasa pada waktu tertentu). Di masyarakat Baduy angklung tidak boleh dimainkan secara sembarangan (pembuatnya pun termasuk orang khusus; di samping itu pada saat akan digunakan dan disimpan diadakan upacara adat khusus pula); di sana masih ada buyut (pamali) atau tabu tertentu untuk angklung sebagai alat musik yang dianggap keramat (sakral).
       Di beberapa Kecamatan Kabupaten Bandung (seperti di Kecamatan Soreang dan Pangalengan) jenis kesenian ini kadang masih dipergunakan untuk arak-arakan upacara adat Nyungkruk Huluwotan (= Nyukcruk sirahcai; menelusuri hulu sungai). — Pada upacara hiburan biasa angklung dulu biasa digunakan sebagai arak-arakan anak sunat, pesta rakyat, dsbnya.
     Angklung tradisional sebagai kesenian biasa sejauh ini belum ada yang mengembangkannya lebih lanjut, sementara jenis-jenis kesenian angklung tradisional yang masih ada di berbagai daerah di Jawa Barat dan Banten sekarang ini cenderung jumlahnya semakin menyusut (tambah sedikit). Ada suatu kekhawatiran yang beralasan jangan-jangan suatu saat nanti akan mengalami kepunahan bila tak ada generasi penerusnya.
--       
AngklungBaduy_thumb4
---
Angklung Moderen
     Angklung modern atau boleh juga disebut Angklung ala Barat adalah angklung dengan tangganada diatomis (doremi, seperti pada musik Barat), dalam bentuk tangganada mayor atau minor. — Contoh angklung moderen adalah Angkung padaéng (= Angkung Pak Daéng) atau Angklung-Sutigna, yang diciptakan untuk pertama kali oleh Pak Daeng Sutigna pada tahun 1930-an (1938), dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Saung angklung Udjo  atau dulu dikenal sebagai Saung angklung Mang Udjo  (yang didirikan pada tahun 1966 oleh Pak Udjo Ngalagena sebagai murid dan penerus Pak Daeng). Angklung model ini disebut juga sebagai Angklung Indonesia. — Jenis kelompok kesenian yang termasuk angklung moderen misalnya : Orkestra angklung, Arumba, dsbnya. Termasuk yang digunakan oleh grup SambaSunda. — Pokoknya angklung jenis ini dapat digunakan untuk membawakan lagu musik Barat (termasuk musik Indonesia dan lainnya), baik pop maupun klasik, bahkan musik rock (rock-klasik), seperti Bohemian Rhapsody dari kelompok Queen.image5_thumb
     SEBAGAI SUATU CATATAN : Perlu diketahui bahwa angklung telah disahkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, atau Alat musik angklung diakui sebagai "The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity" pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committee UNESCO di Nairobi, Kenya, Selasa, 16 November 2010 (16/11/2010).
--
—————————
---
Angklung moderen dalam pemecahan rekor pemain angklung terbanyak di Dunia
       Seperti diketahui pada tanggal 9 Juli 2011 telah terpecahkan rekor Permainan angklung terbanyak di Dunia yang diadakan oleh Guiness Book Of Record (Guiness World Record) di Amerika Serikat, tepatnya di Monumen Grounds North AngklungGuiness2_thumb4Lawn, National Mall Washington DC. Permainan kolosal ini berhasil memecahkan rekor dunia dengan jumlah pemain angklung sebanyak 5180 orang membawakan lagu-lagu pop Barat yang cukup populer seperti We are The World dan Country Road.
       Acara besar ini melibatkan banyak orang dari berbagai wilayah dan negara, sebagian besar dimainkan oleh orang Amerika ditambah sejumlah orang Indonesia dan beberapa warga negara asing lain yang tengah berada di Amerika Serikat. — Kegiatan yang diadakan sekaligus untuk merayakan Festival Multikultural ini dipimpin langsung oleh Daeng Udjo (putera Pak Udjo Ngalagena) dari Saung Angkung Udjo Bandung.

---

REFERENSI DAN ARTIKEL TENTANG ANGKLUNG DARI BEBERAPA SITUS

Beberapa kelompok kesenian angklung di Luar Negeri
  • Angklung Orchester Hamburg, Germany (2003/2004)
  • Lancaster Angklung Orchestra, Lancaster, UK
  • Angklung Hamburg

    Curt Sachs : Real-Lexicon der Musikinstrumente — Im Verlag von Julius Bard, Berlin, 1913.

     

    clip_image002_thumb

  • Rabu, 08 September 2010

    SUNDA, Sebagai salahsatu kawasan biogeografi di Indonesia dan Dunia

    ————————————————————————————

    clip_image002BERDASARKAN atas daerah penyebarannya secara endemik wilayah penyebaran (atau distribusi geografis) flora dan fauna di dunia ini dalam bidang ilmu biogeografi dibagi menjadi beberapa zona biogeografis, yaitu :  Suatu zona geografi yang berkaitan dengan biologi hewan dan tumbuhan dalam segi wilayah penyebarannya di dunia (dengan ciri-ciri tertentu secara spesifik).    
        Cara pembagian zona biogeografis ini untuk pertama kali dibuat oleh Wallace pada abad ke-19. Di mana Wallace dalam hal ini membagi dunia dalam beberapa wilayah biogerografis, yakni : Nearktik, Palaearktik, Etiopian, Oriental, Holoarktik, Australian dan Neotropikal. — Pada wilayah biogeografi Oriental (yang meliputi kawasan Indonesia dan sekitarnya/Asia Tenggara serta sebagian Asia Pasifik) terdapat kawasan Subzona-biogeografis yang disebut Sunda dan Sahul.     
        Subzona-biogeografis Sunda terdapat di kawasan  sekitar Indonesia bagian barat dan sebgaian Indonesia tengah serta Asia tenggara sebelah barat, yang tercakup dalam wilayah geologis Dangkalan Sunda; sementara Subzona-biogeografis Sahul terdapat di kawasan  Indonesia Timur serta Asia tenggara sebelah timur dan sebagian Asia-Pasifik, yang tercakup dalam wilayah geologis Dangkalan Sahul, yang di antara keduanya dibatasi oleh Garis Wallace (Selain Garis Wallace secara lebih detil dalam ruang mikro antara subzona Sunda dan Sahul itu sebenarnya juga terdapat Garis Weber dan Garis Lydekker).image

    image

    image_thumb6

         Kaitannya dengan ini dalam istilah sebutan bahasa Inggris (yang seringkali juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) mungkin kita sering menemukan nama Sunda disebut-sebut dalam berbagai jenis hewan dan tumbuhan dari sekitar kawasan biogeografi ini, dengan sebutan seperti : Sambar Sunda (Cervus timorensis), Sunda scops-owl, Sundaland tiger atau Sundaland Clouded Leopard (Neofeis diardi), dan sebagainya. 
    clip_image00211_thumb

     

     

     

    Sambar Sunda (Cervus timorensis)

     

     

    image_thumb34 

     

     

    Sunda scops-owl

     

     

     clip_image002

     

    Sundaland Clouded Leopard (Neofeis diardi)  

     

     

    ————————————————————————————

    SITUS DAN PUSTAKA SUMBER RUJUKAN (REFERENSI)  

    1.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Sunda_Shelf

    2.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Sahul_Shelf

    ———————————————

    clip_image0021_thumb1

    Senin, 02 Agustus 2010

    SUNDA, sebagai suatu kawasan geologis di Indonesia

    —————————————————————————————————————————

    clip_image002DI LUAR hal etniologi, dalam bidang geologi nama-sebutan Sunda secara luas (di dunia internasional) digunakan sebagai nama salahsatu lempeng benua (plat), dangkalan atau paparan (trog), palung laut (trench) dan juga busur vulkanik (arc), yang disebut sebagai Lempeng Sunda (Sunda Plat), Dangkalan Sunda (Sunda shelf), Palung Sunda (Sunda Trench), dan Busur Sunda (Sunda Arc).

     

    I. LEMPENG SUNDA (SUNDA PLAT)

          Lempeng Sunda (Sunda Plat) adalah suatu lempeng tektonik (plat) di sekitar kawasan Asia Tenggara yang dianggap sebagai bagian dari Lempeng Eurasia. Lempeng tektonik ini meliputi wilayah Laut Cina Selatan, Laut Andaman, bagian selatan Vietnam, Thailand, Malaysia, pulau-pulau pada  kepulauan Sunda Besar di Indonesia (Kalimantan, Sumatra, Jawa, serta Sulawesi)  serta bagian barat daya kepulauan Filipina, Palawan dan Kepulauan Sulu.   
           Batas-batas Lempeng Sunda : Di bagian timur berbatasan dengan Sabuk Bergerak Filipina, Zona Tumbukan Laut Maluku, Lempeng Laut Maluku, Lempeng Laut Banda dan Lempeng Timor; di selatan dan barat dengan Lempeng Australia; dan diutara dengan Lempeng Burma, Lempeng Eurasia; serta Lempeng Yangtze.     
         Batas-batas Lempeng Sunda di bagian timur, selatan dan barat secara tektonik terbilang rumit (kompleks) serta secara seismik senantiasa aktif. Hanya batas bagian utara saja yang boleh dikatakan relatif diam.image

    Peta Lempeng Sunda dan lempeng-lempeng di sekitarnya

     ———————————————

       

    II. DANGKALAN SUNDA (SUNDA SHELF)

          Dangkalan Sunda atau Paparan Sunda (Sunda shelf), adalah suatu dangkalan atau paparan (shelf) di kawasan Indonesia barat; meliputi Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, dan pulau-pulau serta dasar laut transgresi di kawasan Laut Jawa, Laut Natuna, bagian selatan Laut Cina Selatan dan Selat Malaka. Sebelum Zaman Pleistosen dangkalan ini menjadi satu kesatuan dengan benua Asia. — Pada masa lampau (zaman glasial) dangkalan Sunda terbentang luas dari Barat ke Timur antara Lembah Brahmanadapura (di Myanmar) hingga Maluku (di Indonesia Timur) sekarang.     
        Batas-Batas Dangkalan Sunda : Batas alam wilayah Dangkalan Sunda di sebelah timur yaitu “Garis Wallace”, garis yang melintang mulai dari perairan Timur Pulau Mindanau (Filipina) terus ke laut Sulawesi, Selat Makasar, Selat Lombok dan berakhir di Samudera Indonesia. Laut-laut transgresi di wilayah Dangkalan Sunda berkedalaman rata-rata 200 m.       
         Di samping Dangkalan Sunda di bagian timurnya terdapat yang disebut sebagai  Dangkalan sahul (Sahul shelf) yaitu dangkalan laut yang berada di antara Papua dan kepulauan Aru Indonesia Timur yang pada zaman Diluvium bersatu dengan Australia sehingga ada persamaan antara Indonesia kawasan timur dengan Australia.       
          Dengan adanya dangkalan (yang berupa daratan penghubung) ini maka pada jaman es terahir sekitar 10.000 tahun SM (sebelum Zaman Pleistosen) benua Asia tersambung menjadi satu kesatuan dengan kepulauan di Nusantara bagian barat, sehingga memungkinkan fauna dan flora dari daratan Asia (seperti gajah, badak, tapir, harimau dan sebagainya, temasuk berbagai tumbuh khas Asia) dapat tersebar ke kawasan  Indonesia bagian barat, begitu pula sebaliknya. Sementara di bagian timur Indonesia, dengan adanya daratan Sahul yang menghubungkan Pulau Papua dan sekitarnya dengan benua Australia memungkinkan fauna dan flora Australia berpindah ke bagian timur Indonesia. Pada bagian tengah antara dangkalan Sunda dan Sahul terdapat pulau-pulau yang terpisah dari kedua benua tersebut (sehingga di kawasan ini hingga kini terdapat flora dan fauna endemik yang cukup unik).

           Sebagai suatu catatan tambahan : Jawa Barat dan sekitarnya sebagai suatu bagian dari Pulau Jawa, dalam sejarah alam geologi diperkirakan baru ada/muncul di permukaan bumi dari semenjak zaman akhir Miosen, dalam kala Tertier.

    image

    image

    Garis batas antara dangkalan Sunda dan dangkalan Sahul secara lebih detil di mana di dalamnya tedapat subzona biogeografis yang dibatasi oleh 3 garis pembatas, yakni Garis Wallace, Garis Weber dan Lydekker.

    ———————————————

     
    III. PALUNG SUNDA (SUNDA TRENCH)

           Palung Sunda (Sunda trench) adalah suatu palung laut (Oceanic trench) yang terdapat di sekitar kawasan Dangkalan Sunda; atau berdasarkan atas wilayahkawasannya disebut pula sebagai Palung Jawa (Java Trench) dan Palung Sumatera. Letaknya di bagian timur laut Samudera Hindia, panjangnya sekitar 2.600 kilometer (8.500.000 ft) dengan kedalaman maksimum 7.725 meter (25.344 ft; bagian terdalam terletak pada 10°19' LS, 109°58'BT, yaitu sekitar 320 km selatan Yogyakarta). Palung laut ini tercatat sebagai palung laut kedua terdalam di Samudera Hindia, setelah Palung Diamantina (dengan kedalaman sekitar 8.047 meter).      
        Secara luas wilayah Palung Sunda membentang dari Kepulauan Sunda Kecil,  Jawa masa lalu, sekitar pantai selatan Sumatera ke pulau Andaman, sekitar 300 km lepas pantai Jawa dan Sumatra; bentuk-bentuk batas antara Lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, lebih spesifik, Lempeng Sunda (Sunda Plate), merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) dan cincin dari parit laut di sekitar tepi utara Lempeng Australia (Australian Plate).       
        Menurut pengamatan sejumlah ahli gempa terdapat bukti ilmiah tentang aktivitas kegempaan bumi di daerah Palung Sunda/Palung Jawa bisa menimbulkan pergeseran lebih lanjut yang kemungkinan dapat menimbulkan bencana tsunami dalam waktu relatif singkat, mungkin kurang dari satu dekade (seperti yang terjadi di Aceh serta Pangandaran dan sekitarnya pada beberapa waktu yang lalu). Dengan adanya kemungkinan ancaman seperti ini lalu menghasilkan kesepakatan internasional untuk mendirikan Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System = TEWS) di sepanjang pantai Samudra Hindia.

    image_thumb21

    ———————————————

     

    D. BUSUR SUNDA (SUNDA ARC)

         Busur Sunda (Sunda Arc) adalah suatu busur vulkanik (volcanic arc) atau celah vulkanik yang membuat adanya pulau Sumatera, Jawa, selat Sunda dan kepulauan Nusa Tenggara. Pada busur vulkanik ini terwujud suatu  rangkaian/rantai gunung berapi yang membentuk punggung topografi di pulau-pulau bersangkutan. Celah tersebut menjadi batas konvergen aktif antara lempengan Eurasia Timur dengan lempengan India dan lempengan Australia.      
        Busur Sunda termasuk tempat dari gunung berapi yang paling berbahaya di dunia (dengan banyaknya aktifitas vulkanologi). Contoh letusan gunung Tambora di pulau Sumbawa yang cukup besar. Di zona ini pula dalam sejarah geologi pernah meletus suatu gunung berapi di Sumatera Utara sehingga membentuk danau Toba yang diperkirakan termasuk letusan terbesar dalam sejarah purba kegunung-apian. Lalu juga letusan Gunung Krakatau (pada tahun 1883) yang tak kalah dahsyatnya dengan suara letusan terbesar dan terjauh dalam sejarah, sehingga dapat terdengar sampai sejauh kira-kira 5.000 km (3.000 mil) dari pusat letusan dengan menimbulkan kerusakan dan korban jiwa yang cukup banyak kala itu.

         Catatan : Busur Sunda (Sunda Arc) dikatakan termasuk suatu contoh klasik dari busur vulkanik (busur pulau gunung berapi), di mana semua unsur fitur geodinamiknya dapat diidentifikasi secara seksama.

    image Gunung berapi di Busur Sunda, dari Kepulauan Nusa Tenggara ke Sumatera utara.     

    —————————————————————————————————————————

    SITUS SUMBER DASAR YANG TERKAIT DENGAN HAL INI :  

    1.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Lempeng_Sunda

    2.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Dangkalan_sunda_dan_dangkalan_sahul

    3.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Palung_Jawa

    4.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Busur_Sunda

    5.

    http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=3&an=2 (BPPT) – Khusus tentang sistem peringatan dini Tsunami, pada: http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=3&an=2 

    ———————————————

    clip_image0021_thumb1

    Kamis, 01 Juli 2010

    SUNDA, sebagai nama kelompok kepulauan di Indonesia

    ————————————————————————————

    clip_image0021_thumb8SEBAGAI nama kepulauan sebutan Kepulauan Sunda atau Sunda Islands  untuk menyebut Kepulauan Nusantara secara mendasar sudah lama digunakan oleh orang dari luar, terutama oleh orang-orang dari Eropa. Hal ini setidaknya telah berlangsung dari sejak pertama kedatangan bangsa Eropa (khususnya Portugis dan Belanda) ke Nusantara pada sekitar abad 15–16 M. Kemudian pada sejumlah peta dari Barat (Europe) dan Amerika serikat (USA) hal ini terus digunakan hingga kini; Misal pada peta dunia (atlas internasional) The Hammond World Atlas terbitan Time (United States of America, 1980), nama SUNDA ISLANDS dicantumkan dengan huruf besar.  
           
    Di samping itu seperti pembagian dari masa silam, kelompok kepulauan ini dalam bahasa Inggris masih tetap dibagi menjadi 2 kelompok besar yakni Greater Sunda atau Kepulauan Sunda Besar (berupa kumpulan pulau-pulau besar di Indonesia bagian Barat dan tengah yang terdiri atas pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi), dan Lesser Sunda atau Kepulauan Sunda Kecil (berupa kumpulan pulau-pulau kecil di Indonesia bagian Barat dan tengah yang terdiri atas pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor). Perubahan dari Sunda Kecil menjadi Nusatenggara dilakukan oleh Muhammad Yamin pada masa Ia menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan (sekitar tahun 1950-an), berbarengan dengan penggantian nama Pulau Flores (dari bahasa Portugis) menjadi Pulau Bunga, namun nama ini tidak populer. 

          Jauh sebelum orang Portugis dan Belanda menyebut kawasan Nusantara ini dengan sebutan Kepulauan Sunda (pada sekitar abad ke-15–16 M), Ptolemaeus (geografer Yunani dari Alexandria Mesir) pada sekitar abad ke-2 M dalam peta klasiknya Geographike Hyphegesis selain menyebut Iabadiu (untuk Pulau Jawa) Ia pun menyebutkan adanya pulau-pulau yang disebut sebagai Sunda (di kawasan yang kemudian dikenal sebagai Nusantara). Mungkin berdasarkan hal inilah makanya orang Portugis dan Belanda kemudian untuk pertama kali menyebutnya dengan  sebutan SUNDA.

    CATATAN TENTANG BEBERAPA DEFINISI YANG DISEBUT SEBAGAI  KEPULAUAN SUNDA (SUNDA ISLANDS) DARI      BERBAGAI SUMBER :

         Pada Answer.com http://www.answers.com/topic/sunda-strait — disebutkan Sunda Islands : Group of islands of the western Malay Archipelago between the South China Sea and the Indian Ocean. The Greater Sunda Islands include Sumatra, Borneo, Java, and Sulawesi; the Lesser Sunda Islands lie east of Java and extend from Bali to Timor. Sumatra and Java are separated by the Sunda Strait, a narrow channel linking the Indian Ocean with the Java Sea.    
        Pada Britanica Concise Encyclopedia http://www.britannica.com/EBchecked/topic/573753/Sunda-Islands— disebutkan Sunda Islands : Archipelago extending from the Malay Peninsula to the Moluccas. The islands make up most of the land area of Indonesia, with only northern and northwestern Borneo and the eastern portion of Timor not under Indonesian political control. They include the Greater Sunda Islands (Sumatra, Java, Borneo, Sulawesi, and adjacent smaller islands) and the Lesser Sunda Islands (Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, Alor, and adjacent smaller islands). Most of the islands are part of a geologically unstable and volcanically active island arc. Malay cultures and languages predominate in the area.    
         Pada Columbia Encyclopedia http://www.answers.com/library/Columbia+Encyclopedia-cid-2191888— disebutkan Sunda Islands (sŭn'da) : Mainly in Indonesia, between the South China Sea and the Indian Ocean, comprising the western part of the Malay Archipelago. It includes two main groups: the Greater Sunda Islands, to which belong the largest islands of Borneo, Sumatra, Java, and Sulawesi; and the Lesser Sundas, which lie E of Java and include Sumbawa, Flores, Timor, and Sumba (the largest islands). Bali and Lombok, although smaller, are the most important of the Lesser Sundas. The Lesser Sundas, which were renamed Nusa Tenggara [southeastern islands] in 1954, form two provinces within Indonesia. Malaysia, Brunei, and East Timor are the other nations wholly or partially in the Sunda Islands. The Sunda Strait, 20 to 65 mi (32-100 km) wide, between Java and Sumatra, connects the Java Sea with the Indian Ocean.


    Tentang kepulauan di Indonesia lihat List of islands of Indonesia pada : http://en.wikipedia.org/wiki/Islands_of_Indonesia

    ————————————————————————————

      clip_image0021_thumb1

    Selasa, 01 Juni 2010

    SUNDA, sebagai nama gunung

    —————————————————————————————————————————

    clip_image002 SELAIN digunakan sebagai nama selat (juga dangkalan dan palung laut) nama sebutan SUNDA pun di antaranya digunakan sebagai nama gunung, yaitu Gunung Sunda. Gunung Sunda (1.854 m dpl) termasuk salahsatu gunung api di kawasan Bandung utara (Jawa Barat; di sebelah Barat Gunung Tangkuban Parahu atau di sebelah Barat Daya kota Bandung), di mana bersama dengan Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Burangrang termasuk sebagai sisa-sisa dari Gunung Sunda purba raksasaclip_image001_thumb4 yang pernah meletus pada zaman prasejarah dulu, yang karena letusannya mengakibatkan terbentuknya kaldera Sunda dan juga karena sumbatan dari lavanya yang membendung sungai Citarum (di sekitar kawasan Sangiang Tikoro)  kemudian membentuk Danau Bandung purba pada daerah cekungan Bandung dalam masa ratusan ribu tahun yang lalu (pada masa ??).      
         
    Sebuah legenda Sunda terkenal yang berkaitan dengan hal ini adalah legenda Sangkuriang.

    —————————————————————————————————————————

       clip_image0021_thumb15

    Sabtu, 08 Mei 2010

    SUNDA, sebagai nama selat

    ————————————————————————————

    clip_image0025_thumb6SELAT SUNDA atau Sunda Strait, adalah nama selat di antara P. Jawa dan P. Sumatera. Dalam bahasa Sunda sendiri dulu sering disebut pula sebagai Gupitan Sunda. — Sebelum Banten berpisah dengan Jawa Barat kawasan ini merupakan batas alam paling barat dari Provinsi Jawa Barat. Kini menjadi batas paling barat dari Provinsi Banten yang berseberangan dengan Provinsi Lampung.      
          Di kawasan ini terdapat sejumlah pulau kecil yang menjadi milik Banten (dulu Jawa Barat), seperti Pulau Panaitan, Pulau Peucang, Pulau Sangiang, dsbnya (begitu pula di bagian Lampung, seperti P. Sebesi, P. Sebuku, dan P. Legundi).  SDwebagi sdaya tarik khusus  di kawasan selat ini terdapat gunung api laut yang sangat terkenal di dunia clip_image002_thumb7

    yaitu Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata dalam sebutan bahasa Sunda) yang menjadi bagian dari Provinsi image_thumb11Lampung.

              
         Jembatan laut selat Sunda : Bagaimana pentingnya selat ini dalam perhubungan laut dunia mungkin sudah diketahui oleh masyarakat internasional. — Untuk meningkatkan kelancaran transfortasi ada rencana pembangunan jembatan selat Sunda yang menghubungkan antara Banten dengan Lampung, atau antara image_thumb2Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera (seperti jembatan laut Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura, atau antara Pulau Jawa dengan Pulau Madura), namun hal ini entah kapan pelaksaannya.  Bila terlaksana jembatan laut Selat Sunda ini konon akan menjadi jembatan laut terpanjang di dunia (di mana rencananya akan berada pada ketinggian 70 meter di atas permukaan laut, dan melewati tiga pulau-pulau kecil di selat itu, yaitu P. Prajurit, P. Ular, dan P. Sangiang, dengan panjang sekitar 29 km).

    —————————————————————————————————————————

      clip_image0021_thumb1

    Kamis, 01 April 2010

    SUNDA, sebagai nama organisasi kemasyarakatan dan hal yang berkaitan dengan kegiatan sosial-budaya lainnya

    —————————————————————————————————————————

    clip_image002NAMA SEBUTAN SUNDA dengan daya-tarik/daya-pesona dan daya-ikatnya tersendiri tak jarang digunakan untuk menamai suatu organisasi atau wadah kegiatan tertentu (termasuk pada situs internet); baik menggunakan nama-sebutan Sunda itu secara nyata atau tidak (seperti pada SundaNet, dan ngariung.com), serta baik yang bersifat sosial non-komersial maupun yang bersifat komersial.      
         Dalam hal ini nama sebutan Sunda tersebut beperan atau berfungsi sebagai dasar identitas untuk pengikat suatu wadah perhimpunan yang dibentuk dengan tujuan tertentu; baik berupa ikatan-ikatan, perkumpulan atau asosiasi dan juga badan atau lembaga yang berkaitan dengan asal-usul etnis dan daerah dari kawasan Sunda.   
         Ditinjau dari sisi lain nama-sebutan dengan daya-tarik khusus ini mungkin juga dipakai sebagai semacam “image brand” untuk pemikat atau penarik hati, baik secara komersil (dalam merek dagang suatu produk niaga) maupun non-komersil (sebagai identitas bagi suatu organisasi/badan atau lembaga sosial-budaya dan sebagainya).   
         Dalam organisasi yang bersifat non-komersial nama sebutan Sunda misalnya digunakan dalam nama Paguyuban Pasundan, Pakumpulan Wargi Sunda, dsbnya.  Sementara yang bersifat komersial misalnya digunakan dalam sejumlah nama atau merek suatu perusahaan dan produk niaga/dagangan tertentu, seperti rumah makan (restoran), hotel,  jenis makanan, pakaian, dan sebagainya, terutama di lingkungan lokal, regional dan nasional (di setiap kota sekitar Sunda dan Nusantara/Indonesia), dan bahkan mungkin juga secara internasional di luar negeri (seperti di Amerika Serikat misalnya terdapat sebuah restoran yang menggunakan nama SUNDA).

           Untuk melihat bagaimana nama sebutan Sunda tersebut digunakan (dalam hal ini khususnya pada organisasi yang bersifat non-komersial) baiklah kita rinci beberapa di antaranya, dengan pengelompokan sebagai berikut :

    I.

    Organisasi Sunda/Kesundaan di kawasan Tatar Sunda sendiri :

     

    1.

    Paguyuban Pasundan — Alamat :

     

    2.

    Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) — Alamat :

     

    3.

    Paguyuban

       

    II.

    Organisasi Sunda/Kesundaan di luar kawasan Tatar Sunda :

     

    A.

    Di luar daerah di Indonesia (dalam negeri) :

       

    1.

    Wargi Sunda Medan (di Medan Sumatera Utara)

       

    2.

    Paguyuban Urang Sunda (Pusunda) di Bali

     

    B.

    Di luar negeri (luar Indonesia) :

       

    1.

    Paguyuban Sunda Australia

       

    2.

    Paguyuban

          Seperti disebutkan di atas termasuk pula ke dalam kelompok ini adalah komunitas orang Sunda atau organisasi kesundaan dalam jaringan internet, berupa situs-situs yang bertalian dengan Sunda dan orang Sunda, baik yang menggunakan bahasa Sunda maupun bahasa lainnya di luar Sunda (Indonesia, Inggris, dsbnya), serta baik yang secara nyata menggunakan nama Sunda atau tidak.       
       BEBERAPA SITUS SUNDA/KESUNDAAN DI INTERNET : Jumlah situs Sunda atau Kesundaan di Internet sangat banyak, di antaranya saja (yang bersifat non-komersil) seperti :

    1.

    http://www.sundanet.com/ (SundaNet)

    2.

    http://urangsundanet.wordpress.com (KUSNet)

    3.

    http://ppss.or.id  (Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda)

    4.

    http://rumahbacabukusunda.blogspot.com (Rumah Baca Buku Sunda)

    5.

    http://pasundanboleh.wordpress.com (Sunda Blog)

    6.

    http://baraya-sunda.grouply.com

    7.

    http://ngariung.com, dsbnya.

     

    —————————————————————————————————————————

     

      clip_image0021_thumb1

    Senin, 01 Maret 2010

    SUNDA, sebagai nama Kerajaan zaman dahulu di Jawa Barat dan sekitarnya

    ————————————————————————————————————————

    clip_image0027_thumb10PADA masa lalu, jauh sebelum adanya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) di Nusantara ini berdiri sejumlah negara kerajaan independen yang tersebar di berbagai daerah dari barat hingga timur; termasuk di kawasan Sunda (Jawa Barat dan sekitarnya). Di kawasan ini pada zaman dahulu (dari sekitar abad ke-2 M hingga abad ke-19 M) pernah berdiri beberapa kerajaan besar, seperti  Salakanagara, Tarumanagara, Sunda, Galuh, Pajajaran atau Sunda-Pajajaran, Sumedanglarang, serta Kesultanan Cirebon dan Banten.      
           Sunda sebagai nama kerajaan di Jawa Barat dan sekitarnya pada zaman dahulu muncul pada sekitar pertengahan abad ke-7 M, setelah berakhirnya masa kerajaan Tarumanagara. Kerajaan penerus Tarumanagara ini berdiri selama sekitar 8 abad, dari tahun 669 M hingga tahun 1482 M. — Wilayah kekuasaannya pada awalnya hanya terdiri atas bagian wilayah Banten, Jakarta dan sebagian Jawa Barat bagian barat hingga perbatasan Sungai Citarum (karena pemisahan wilayah Galuh di bagian di timur), namun setelah menyatu kembali dengan Galuh wilayahnya kemudian meliputi seluruh bagian pulau Jawa bagian barat,  dari mulai Banten, Jakarta dan seluruh Jawa Barat hingga sebagian wilayah Jawa Tengah bagian barat dengan batas alam kali Pemali (Cipamali) Brebes dan sekitarnya. 
          
          SEJARAH AWAL BERDIRINYA KERAJAAN SUNDA  : Awalnya di jaman akhir Tarumanagara yang telah memudar menantu raja terakhir dari kerajaan Tarumanagara (menantu Maharaja Linggawarman), yang bernama Tarusbawa (yang berasal dari kawasan Sunda Sembawa) sebagai raja pengganti pada tahun 669 M merubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Perubahan nama ini mungkin dimaksudkan untuk membangkitkan suasana dan semangat baru dalam membangun negara, namun sangat disayangkan hal ini justru memicu perpecahan, karena kawasan Galuh di timur (dengan rajanya kala itu bernama Wretikandayun) yang tidak setuju akan hal tersebut lalu memisahkan diri. Namun hal ini tidak berlangsung selamanya, karena pada masa raja-raja selanjutnya terjadi penyatuan kembali; hingga mencapai puncak penyatuan pada masa raja Sri Baduga Maharaja di mana Sunda dan Galuh secara utuh menyatu kembali dalam satu negara kerajaan Sunda dengan nama baru yang lebih dikenal dengan sebutan Sunda Pajajaran. 

    image_thumb26Peta wilyah kerajaan Sunda dan Galuh (dari Wikipedia)

            Tentang awal-mula kawasan yang disebut Sunda Naskah Wangsakerta pada bagian mengenai Jawadwipa (yang mungkin hal ini berkaitan erat dengan prasasti Pasir Muara Cibungbulang Bogor = Prasasti Juru Pangambat dari abad ke-6 M; serta dengan piagam tembaga Kebantenan  dari abad ke-15/16 M), disebutkan sebagai berikut, bahwa : Sebelumnya sebetulnya sudah ada nama Sunda, namun Sunda kala itu baru sebagai suatu kerajaan daerah di bawah kekuasaan Tarumanagara.  Kerajaan Tarumanagara sendiri mempunyai ibukota yang bernama Sundapura, yang letaknya mungkin di sekitar Bekasi atau di sekitar kawasan pesisir antara Jakarta dan Bekasi). — Di luar itu ada lagi yang disebut Sunda Sambawa atau Sunda Sembawa tempat asal Tarusbawa. Dengan adanya sebutan Sunda Sembawa ini lalu timbul suatu pertanyaan mendasar apakah Sunda Sembawa (= Sunda Awal) itu adalah nama lain dari Sundapura dalam sebutan di kemudian hari, ataukah kawasan khusus lainnya yang lebih tertuju kepada daerah pedalaman di sekitar Bogor tempat ditemukannya prasasti Juru Pangambat yang menyebut-nyebut nama Sunda, di mana kemudian kawasan tempat asal Tarusbawa dan leluhurnya tersebut (Sunda Sembawa) dijadikan  sebagai nama sekaligus pusat kerajaan Sunda. Untuk menjawab hal ini mungkin diperlukan kajian lain yang lebih mendalam, yang jelas kemudian pusat kerajaan Tarumanagara yang telah berubah menjadi Sunda beralih dari daerah pesisir di sekitar Bekasi ke daerah pedalaman di sekitar Bogor kini.       
          Nama Sunda sebagai nama kerajaan penerus Tarumanagara terus berlanjut hingga berdirinya Pajajaran atau secara lengkapnya disebut Kerajaan Sunda Pajajaran (pada abad ke 15/16); di mana orang Portugis pada awal abad ke-16 menyebut kerajaan tersebut dengan sebutan Sunda, atau dengan lidah mereka disebut Cumda (Regna da Cumda) atau Sonda.     
          Raja terakhir kerajaan Sunda adalah Susuktunggal (1382 – 1482 M). Setelah itu lalu berdirilah Pajajaran (Sunda Pajajaran) dengan raja pertamanya adalah Sri Baduga Maharaja (keponakan sekaligus menantu Susuktunggal), atau yang lebih dikenal di masyarakat banyak dengan julukan Prabu Siliwangi.

    ———————————————

    RAJA-RAJA KERAJAAN SUNDA

           Selama berdiri kurang-lebih sekitar 8 abad (dari tahun 669 M hingga tahun 1482 M) kerajaan Sunda pernah dirajai oleh 34 orang Raja, yakni :

    1. Tarusbawa

    669 – 723 M

    2. Sanjaya

    723 – 732 M

    3. Tamperan Barmawijaya

    732 – 739 M

    4. Rakeyan Banga

    739 – 766 M

    5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang

    766 – 783 M

    6. Prabu Gilingwesi

    783 – 795 M

    7. Pucukbumi Darmeswara

    795 – 819 M

    8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajahkulon

    819 – 891 M

    9. Prabu Darmaraksa

    891 – 895 M

    10. Windusakti Prabu Dewageng

    895 – 913 M

    11. Prabu Pucukwesi

    913 – 916 M

    12. Rakeyan Jayagiri

    916 – 942 M

    13. Atmayadarma Hariwangsa

    942 – 954 M

    14. Limburkancana

    954 – 964 M

    15. Munding Ganawirya

    964 – 973 M

    16. Rakeyan Wulunggadung

    973 – 989 M

    17. Brajawisesa

    989 – 1012 M

    18. Dewa Sanghiyang

    1012 – 1019 M

    19. Sanghiyang Ageng

    1019 – 1030 M

    20. Sri Jayabupati

    1030 – 1042 M

    21. Darmaraja

    1042 – 1065 M

    22. Langlangbumi

    1065 – 1155 M

    23. Prabu Menakluhur

    1155 – 1157 M

    24. Darmakusuma

    1157 – 1175 M

    25. Darmasiksa

    1175 – 1297 M

    26. Ragasuci

    1297 – 1303 M

    27. Citraganda

    1303 – 1311 M

    28. Linggadewata

    1311 – 1333 M

    29. Linggawisesa

    1333 – 1340 M

    30. Ragamulya

    1340 – 1350 M

    31. Prabu Maharaja Linggabuana

    1350 – 1357 M

    32. Bunisora Suradipati

    1357 – 1371 M

    33. Niskala Wastukancana

    1371 – 1475 M

    34. Susuktunggal

    1382 – 1482 M

        
         
    Kaitan dengan ini selanjutnya lihat : Sejarah kerajaan-kerajaan  di kawasan Sunda atau Jawa Barat dan sekitarnya.

     

    ————————————————————————————————————————

     clip_image0021_thumb1